Kisah ini, aku dedikasikan untuk diriku sendiri utamanya. Sebagai penghormatan buat pahlawanku, cinta pertamaku yang selalu aku bebani setiap saat, ayahku. Sebagian ceritanya sendiri berdasarkan pengalaman pribadi. Semoga memotivasi, diriku sendiri. Terimakasih para peng-ide di balik cerita ini, Shangrilla, Wardah, Abel, Makwen. Terimakasih banyak atas ide dan pendapatnya, bagus sekali semuanya. Tapi sayangnya akunya gabisa ngalurin ceritanya :' maaf kalo pembaca kecewa. Aku sadar ini ceritanya kurang greget ujungnya. Beneran! Lanjutin, aku spoilerin, klimaksnya kurang greget, sumpah! Jujur sebenernya ini garagara deadline ditengah ketidak mood anku. Jadinya gini. Maaf banget. Kritik dan saran mohon dijejakkan di kolom komentar. Insyaallah kedepannya akan lebih baik lagi, baik kisahnya maupun tulisannya 😅. Semangat buat temen-temen yang UTBK!!! Aku tunggu kabar baiknya 🤗
Let's go!
~
~
Pandemi. Penyakit yang menyebar secara global meliput wilayah geografis yang luas. Bukan hanya penyakit fisik! Psikis pun diserang. Roda sosial, ekonomi, bahkan pendidikan pun terhenti. Semuanya berhenti. Tak terhitung berapa banyak pekerja harian dan industri terpengaruh penghasilannya karena jalanan sepi. Institusi pendidikan yang diliburkan, serta acara-acara yang ditunda entah sampai kapan. Hanya karena sesuatu yang bahkan lebih kecil dari debu. Alam seakan sedang menyatakan perang dengan penghuninya. Yang kuat bertahan yang lemah dikalahkan. Begitulah keadaan dunia sekarang.
Kala mentari mulai menunjukkan sisi merahnya sembari menyapa senja...
Bagaimana mengatakannya pada anak-anakku? Apa mereka bisa menerima bahwa ayahnya seorang korban PHK? Belum lagi, selama ini mereka selalu merasa tercukupi kebutuhannya. Bisakah aku menghadapinya? Andre menatap kosong mobilnya.
“Ayah! Ayah kenapa bengong di sana? Ayah! Caca lolos SNMPTN!” sembari lari keluar kamar, Caca berteriak kegirangan kepada Andre yang baru akan melangkahkan kaki memasuki pagar.
“Wah! Benarkah itu, Nak?” tanya Andre cemas.
“Iya, Yah! Jadi, aku tidak usah ikut tes kedinasan ya, Yah? Kan sudah diterima di PTN. Nanti kalo nggak diambil sekolah Caca di blacklist sama PTN-nya. Toh, sekolah kedinasan juga nggak menjamin Caca bakalan hidup mapan. Caca juga cewek, nanti kalo ditempatin di luar pulau gimana?” pinta Caca meyakinkan.
“Nggak, Caca. Kamu tetap harus ikut tes sekolah kedinasan. Buang jauh-jauh pikiranmu itu! Ayah nggak mau kamu jadi sarjana pengangguran. Setidaknya dengan sekolah kedinasan masa depanmu lebih cerah,” Andre tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
“Nggak, Ayah! Caca nggak mau! Caca mau sekolah di PTN!” mata Caca berkaca-kaca berusaha meredam amarah. Dadanya sesak. Tenggorokannya tercekat. Tanpa menghiraukan ayahnya, ia berlari menuju kamarnya. Mengunci diri. Ina menyusul berusaha menjelaskan tetapi Caca tetap tidak mau keluar.
Di dalam kamar, Caca menangis sejadi-jadinya, dalam diam. Ia tidak ingin ayah dan ibunya mendengar suara tangisnya. Semakin ditahan semakin sakit yang ia rasakan. Mengapa aku tadi membentak ayah! Dasar bodoh! rutuk Caca pada dirinya sendiri. Tangis Caca bukan karena kemauannya tidak dituruti, Caca menyesal. Menyesal telah membentak ayahnya yang selama ini selalu menuruti semua kemauan Caca. Bahkan hingga kakak dan adiknya dibuat iri karena ayahnya selalu menuruti Caca. Tapi sifat egois dan gengsi Caca masih menguasai dirinya. Caca ingin minta maaf pada ayahnya, tapi sifat itu masih menahannya. Ia tetap berdiam di kamar hingga mentari menyapa.
Aku harus minta maaf sama ayah! Bagaimanapun ayah pasti tau yang terbaik buat anaknya kan? batin Caca.
Pagi itu juga, Caca keluar dari kamarnya. Tidak ada siapapun. Ibu dan Nana pasti sedang belanja bahan kue untuk jualan. Dan ayahnya? Biasanya ayah masih di rumah jam segini, kok nggak ada ya? Kemana ya? tanya Caca dalam hati sembari berjalan mencari ayahnya di halaman belakang rumah, tidak ada. Mobil sedan yang biasa terparkir di depan rumah pun tidak ada. Di tengah-tengah pencarian Caca, ibu dan adiknya datang membawa sekantong bahan kue.
Caca berlari menghampiri ibunya, “Ibu, ayah kemana? Kok pagi-pagi udah nggak ada?”
“...”
Ibunya hanya membisu, meninggalkan Caca, menuju dapur.
“Ibu aneh, ditanya malah pergi,” pikir Caca.
Di dapur, Ina diam-diam meneteskan air mata. Mengingat percakapannya dengan suaminya tadi malam. “Bagaimanapun Caca tidak boleh tau secepat ini, Bu,” Andre memelas pada istrinya.
Waktu cepat berlalu. Rembulan kini telah terbangun menggantikan Sang Surya. Di tengah porak-poranda dunia, dinginnya angin malam yang menerpa wajah, perasaan kalut mencakar-cakar hati seorang anak gadis yang menunggu kepulangan ayahnya di teras rumah. Caca khawatir. Seharian ayahnya belum pulang. Tidak ada yang tau Andre kemana.
Dengan putus asa Caca masuk kembali ke dalam rumah. Melewati ruang tamu. Ia terhenti sejenak, menatap benda kecil yang tergeletak. Ia kenal dengan pemiliknya. Segera Caca ambil benda itu.
“Kok ayah nggak bawa hp ya? Tumben bisa kelupaan gini,” ucap Caca penasaran. Kemudian ia letakkan kembali hp itu, bergegas menghampiri ibunya di ruang tengah.
“Ibu, ayah kok belum pulang ya? Bu, nanti kalo ayah pulang bilang Caca ya, Bu?”
“Iya, Nak,” sahut ibunya singkat.
Di dalam kamar, Caca masih memikirkan hp ayahnya yang tertinggal. Tidak biasanya ayahnya meninggalkan hpnya seperti itu. Andre adalah orang penting di perusahaan. Rasa penasaran yang kian menebal semakin menguasai pikirannya. Hingga ia terlelap tanpa mendapat jawaban.
~
Caca terbangun ketika matahari telah menyingsing dengan gagahnya. Ia bergegas keluar dari kamar seperti ayam mencari induknya, ia mencari ayahnya. Benar saja, ayahnya tidak ia temukan di manapun. Ibunya pun tadi malam tidak membangunkannya, sekedar memberitahu bahwa ayahnya pulang pun tidak. Semakin jengkel hati Caca, merasa ada yang disembunyikan darinya.
Hp Andre di ruang tamu pun sudah tidak di tempatnya. Ia yakin ayahnya telah pulang tadi malam kemudian berangkat kembali saat ayam berkokok menyambut fajar. Sesak. Dadanya sesak. Perasaan marah, kecewa, penasaran campur aduk di dalam dadanya. Ia merasa pembicaraannya lusa ada hubungannya dengan semua ini. Ingin marah tapi tidak tahu ke siapa. Ia hanya ingin dapat jawaban, kemana sebenarnya ayahnya pergi sampai disembunyikan darinya.
Siang menjelang sore. Sang Senja dengan percaya diri menunjukkan wujud indahnya. Seakan menyelimuti bumi yang tengah kalut.
Suara bising motor butut terhenti di depan pagar. Terlihat sesosok lelaki letih seakan ada beban sangat berat yang harus ditanggung di pundaknya. Caca mengenali sosok itu. Ayah!
“Assalamu’alaikum! Caca! Ayah bawakan gado-gado kesukaan kamu, Nak,” raut sumringah Andre saat turun dari motor membawakan bungkusan makanan kesukaan putri tersayangnya, berusaha sekuat tenaga menutupi segala letihnya.
Tapi...
“Ayah darimana saja? Itu motor jelek punya siapa yang ayah bawa? Mana mobil kita? Bukankah seharusnya di sana? Kok nggak ada? Ayah sama ibu nyembunyiin apa dari Caca?!” tanpa menjawab salam, Caca menghujani sejuta pertanyaan pada ayahnya tanpa diberi kesempatan menjawab sedikitpun.
Raut wajah Caca memerah, menahan tangis dan amarah. Menahan tangis karena Caca merasa bersalah telah membentak ayahnya, amarah karena merasa ada yang disembunyikan darinya.
Andre menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah menahan amarah dan rasa bersalah. Ingin sekali memeluk putri tercintanya, tapi hati putrinya itu sedang tidak baik saat ini.
“Waalaikumussalam, Ayah. Ayo masuk dulu. Sudah Caca, ayo masuk. Ibu sudah siapkan makanan. Eh, ayah beli gado-gado ya? Kesukaan Caca, kan? Ayo kita makan,” sahut Ina yang muncul dari dalam rumah menyambut kedatangan Andre dan menenangkan Caca.
Suasana makan malam saat itu berbeda dengan biasanya. Hening. Gado-gado kesukaan Caca pun rasanya hambar. Semuanya membisu. Hanya suara sendok dan piring yang beradu seperti suara pedang para ksatria. Tidak ada yang nyaman dengan situasi ini. Caca yang biasanya mencairkan suasana kini moodnya sedang tidak baik dengan ayahnya.
“Ayah, kuota Nana habis, Yah. Sekolahnya online tapi nggak ada subsidi kuota dari sekolah. Boleh nggak, Yah, Nana minta uang?” adik Caca memecah keheningan ruang makan.
Wajah Andre mendadak kaku. Andre melirik istrinya sembari meneguk segelas air putih untuk menutupi kekhawatirannya.
“Nanti ya, Nana, Ibu yang kasih. Hasil jualan kue kemarin mungkin cukup buat beli kuota ya, Nak. Ayo, Nana bantu Ibu bikin kue,” sahut Ina seakan mengerti maksud suaminya.
“Hah? Kenapa Ibu? Bukannya ayah harusnya sudah gajian? Kemana gaji ayah? Ayah, 2 hari lagi terakhir bayar daftar ulang loh. Caca masuk PTN, kan? Terus, mobil kita kemana? Itu bukan motor ayah, kan?” Caca benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Bertubi-tubi pertanyaan melayang-layang di pikirannya, namun hanya itu yang terlontar. Ia sudah tidak peduli dengan kesopanan. Pikirannya sudah kalut. Ia tetap bersikukuh dengan kemauannya.
“Caca, dengarkan ayah dulu, Nak. Ay—“
“Cukup, Yah! Pokoknya aku tetap mau masuk PTN! Aku nggak mau tes kedinasan. Aku nggak mau jadi babu negara, Yah! Aku ingin mendirikan perusahaanku sendiri. Aku nggak mau terikat kontrak! Kalo ayah tetep nggak bolehin aku masuk PTN, aku bakalan pergi, cari uang sendiri. Entah mau ngemis kek, jadi cs kek, yang penting aku mau cari uang sendiri buat biaya kuliahku! Corona? Daripada nggak kuliah mending aku kena Corona!—“
“Caca!” ayahnya menyela.
“—Selama ini Caca udah nurutin semua maunya ayah. Kali ini biar aku yang nentuin sendiri jalan hidupku. Aku sudah besar, Yah! Aku bukan Nana yang masih diatur-atur sana sini!”
Ayahnya hanya menunduk, matanya berkaca-kaca. Caca meninggalkan Andre begitu saja setelah meluapkan perasaannya yang telah ia pendam selama ini, tanpa mendengar sepatah kata penjelasan dari Andre. Wajahnya merah padam. Caca berlari ke kamarnya kemudian menggebrak pintunya. Caca menangis sejadi-jadinya.
Ia marah. Marah pada ayahnya karena selalu mengatur jalan hidupnya. Marah pada dirinya sendiri karena gagal mengalahkan egonya, bukannya minta maaf pada ayahnya, ia malah membentak ayahnya lagi. Marah pada dunia yang seakan tidak berpihak padanya. Tanpa terasa tangisan Caca membuatnya terlelap jauh di bawah kendali imajinasinya.
Ramainya detik jarum jam di tengah kesunyian malam, ditemani sahut-menyahut suara jangkrik, memanipulasi suara gagang pintu yang dibuka perlahan oleh Andre. Ditatapnya lembut putri kesayangannya itu, dihampiri, membenarkan selimut yang tersingkap di kaki putrinya, seakan tak boleh ada seekor nyamuk pun menyentuh kulit anaknya.
Perlahan tangannya mengelus rambut anaknya. Tatapan sayang, cemas, dan bersalah tergambar jelas di matanya. Bersalah karena sudah menyembunyikan hal besar dari putrinya, hanya karena takut menjadi beban pikirannya. Cemas karena takut jika seluruh harapan yang diletakkan di pundak putrinya malah menjadi beban yang harus ditanggungnya sendirian. Sebagai seorang ayah, ia merasa sangat bersalah.
Sebelum pergi, Andre meletakkan sebuah amplop coklat di meja kamar putrinya.
“Semoga pilihanmu adalah keputusan yang terbaik, Anakku. Maafkan ayah,” sembari mengecup lembut kening Caca. Harapan yang besar telah disematkan pada Caca.
~
“Caca, ayo, Nak. Mau berapa lama lagi kamu akan mengurung diri di kamar terus seperti itu? Bukankah hari ini terakhir membayar uang daftar ulang? Gih, sana cepat pergi. Itu uangnya ada di meja,” suara Ina dari luar kamar menyadarkan lamunan Caca. Ah, benar! Hari ini terakhir! Dengan sigap Caca beranjak dari tempat tidur.
Kini ia telah menjadi Caca yang biasanya. Hal itu terjadi sejak ayahnya menyetujui keputusan Caca walaupun keduanya masih canggung. Belum ada interaksi apapun dari kedua insan itu setelah kejadian kemarin sore. Hanya ada sebuah tanda yang Caca dapati saat ia terbangun dari tidurnya, amplop coklat bertuliskan ‘DAFTAR ULANG. SEMOGA SUKSES ANAKKU' di mejanya.
“Ibu! Caca mau bayar daftar ulang dulu ya, Bu,”
“Iya, Nak! Hati-hati. Jangan lupa maskernya!”
Di tengah perjalanan ke bank yang lumayan jauh dari rumahnya, dari kejauhan, Caca melihat seorang pemulung yang berjalan letih di bawah teriknya mentari siang itu. Cara jalannya mirip sekali dengan ayahnya. Seketika ia teringat, ia belum meminta maaf pada ayahnya. Tanpa dihiraukan, Caca segera menuju bank.
Sepulang dari bank, hati Caca terasa lega. Ia merasa satu persatu masalah telah gugur. Hanya satu. Hubungannya dengan ayahnya. Walaupun lega, Caca masih diselimuti rasa bersalah karena telah memperlakukan ayahnya seperti itu. Nanti harus minta maaf! Harus! Caca berjanji pada dirinya sendiri.
Senja mulai menyapa. Caca gugup menunggu kedatangan ayahnya. Sore ini ia akan minta maaf pada ayahnya. Sambil menunggu kedatangan Andre, Caca mengisi kebosanan dengan menonton televisi. Menyaksikan berita hiruk-pikuk dunia yang sedang sakit ini. Ayahnya belum juga pulang.
“Seorang Pemulung Dinyatakan Positif Covid-19” Caca terhenyak melihat headline berita. Ditampilkan juga foto pemulung itu dari kejauhan. Caca mengenali orang itu. Pemulung tadi siang! Mulut Caca ternganga lebar. Sedikit kaget, bercampur firasat aneh dalam hatinya. Cara jalan pemulung itu memang mirip ayahnya.
Dadanya berdegup kencang. Dengan kekhawatiran yang memuncak, ia berlari menghampiri ibunya, “Ibu, sebenarnya ayah kemana, Bu? Kenapa belum pulang juga? Ayah benar-benar kerja kan, Bu?”
Belum sempat Ina menjawab, “Assalamu’alaikum” Ayah! Caca berlari sekencang mungkin menuju pintu. Ia segera memeluk erat-erat ayahnya yang bengong kaget dengan perlakuan anaknya. Ada rasa lega di sana. Di tengah kebingungannya, Andre berpikir, mungkin ini saatnya aku jujur pada Caca!
“Caca,”
“Ayah,”
Caca seketika melepaskan pelukannya.
“Iya, Nak? Ada yang mau kau sampaikan?”
“Ah, t-tidak, Yah. Ayah dulu saja,” Caca yang masih canggung dengan suasana ini merasa ada hal penting yang ingin disampaikan ayahnya.
“Ayo kita sambil duduk, ini Ayah bawakan kesukaanmu,”
“Iya, Yah,”
Keduanya kini berada di ruang makan. Saling diam. Canggung. Sama-sama menatap kosong pada gado-gado di piring masing-masing. Terhanyut dalam pikiran masing-masing. Sifat keduanya sangat mirip. Gengsi. Keras kepala. Tapi diam-diam saling mencemaskan.
“Ca,” Andre berusaha membuka obrolan.
“Iya, Yah?” Caca berusaha menatap mata ayahnya. Ada kilatan cemas di sana.
“Caca, maafkan ayah. Maafkan ayah jika selama ini kamu merasa tidak nyaman dengan semua ini. Jujur, ayah melakukan semua ini untuk kebaikanmu. Karena ayah menyayangimu, Putriku. Ayah hanya tidak mau kamu menjadi orang yang harus merasakan pahitnya dunia seperti ayah di masa lalu. Caca anak tertua, perempuan. Maafkan kami jika kamu harus menanggung semua beban keluarga ini di masa depan. Tapi ayah yakin, Caca anak yang kuat. Caca seperti ayah, kan? Banyak sekali kemiripan di antara kita. Ayah kuat, Caca juga harus kuat. Ayah menghargai segala keputusan Caca sekarang, karena ayah tau, Caca lebih tau apa yang terbaik untuk Caca,” Andre menundukkan wajahnya. Seakan tidak ingin putrinya melihat wajahnya yang sedang lemah itu.
“Ca, maafkan ayah jika harus menjual mobil kita. Sebenarnya, hari itu, hari dimana kabar gembira datang untukmu, untuk ayah juga, hari itu juga ayah di-PHK. Sebenarnya ayah ingin sesegera mungkin menyampaikan ini padamu, tapi bagaimana mungkin seorang ayah mematahkan kegembiraan putri tersayangnya dengan sebuah kabar yang harusnya tidak perlu diberitahukan?” Caca ikut menundukkan kepalanya dalam.
“Untuk kuliahmu, ayah yakin itu keputusan terbaik. Oleh karena itu ayah jual mobil kita. Mungkin bisa untuk membayar biaya kuliah Caca full sampai lulus. Sudah bayar daftar ulang, kan? Caca tenang saja, ya? Tak usah dipikirkan. Maaf ayah harus bercerita hal yang harusnya tidak perlu kamu tau,”
Tak terasa air mata Caca meleleh turun. Tenggorokannya sakit menahan isakan tangisnya. Tapi ia tidak mau terlihat lemah di depan ayahnya.
Dengan nada tegar yang kentara dibuat-buat, Caca memberanikan diri bertanya, “Lalu, sekarang ayah kerja apa?” hanya itu yang sanggup terlontar.
Andre memegang pundak putrinya, menatap mata putrinya yang sudah basah oleh air mata, “Nak, sekarang ayah melakukan apapun asalkan halal dan tidak meminta-minta. Kemarin lusa ayah pergi pagi-pagi buta, ayah ikut Pak Toni, teman ayah, menjadi pekerja borongan. Di tengah pandemi gini siapa sih yang mau nerima orang tua yang sudah letih ini bekerja? Yang penting bisa untuk mencukupi kebutuhan kita sehari-hari saat pandemi ini saja sudah cukup. Maaf ya, Nak, ayah bikin Caca malu. Caca punya ayah seorang tukang,”
Tangis Caca semakin deras. Rasa bersalah menggerogoti perasaannya. Segera ia memeluk erat ayahnya, seakan khawatir akan kehilangan.
“Tidak ayah. Caca tidak malu sama sekali. Justru Caca merasa sangat bangga punya ayah kayak ayah. Selalu tegar dalam setiap keadaan. Pantang menyerah menghadapi semua masalah. Caca mau jadi orang seperti ayah. Maafkan Caca, Yah. Caca janji tidak akan mengecewakan ayah dan ibu. Caca janji akan jadi orang sukses. Caca janji akan membahagiakan ayah dan ibu. Terimakasih banyak, Ayah,” Caca semakin mengeratkan tangannya memeluk ayahnya.
“Terimakasih juga, Nak. Ayah bangga sekali sama Caca. Ayah yakin suatu saat Caca akan menjadi Bintang Kejora yang tetap ada meski mentari bersinar terang, menjadi besar sehingga sinarnya terlihat oleh semua orang, menjadi cahaya untuk semua yang ada di sekelilingnya, sangat indah. Hiduplah seperti itu, Nak,”
~